Terima kasih, WH Banda Aceh…

Pagi itu untuk ke sekian kalinya saya dengan menahan kantuk dan tubuh lemas, uring-uringan berkeluh kesah pada suami. Bagaimana tidak, sepanjang malam tidur kami terganggu oleh kebisingan dari warung kopi yang tak jauh dari rumah. Musik dangdut disko ‘ajep-ajep’ yang menyala keras sepanjang malam. Biasanya musik baru berhenti kala subuh menjelang dan pengunjung warkop satu persatu beranjak pulang.

Namun entah kenapa malam itu musik menyala lebih nyaring dan lebih lama daripada biasanya, hingga sholat subuh di masjid-masjid usai pun, warkop itu masih terdengar bisingnnya. Setau saya warkop ini adalah tipe warkop yang cukup ‘beda’ di kota Banda Aceh, karena justeru sangat ramai di malam hingga pagi hari, sementara siangnya tampak sepi. Sungguh sangat menganggu kenyamanan bagi tetangganya. Terlebih untuk wanita mengandung yang agak sulit tidur nyenyak seperti saya. Selama ini saya mencoba menahan diri dan mendoakan agar si pengelola warkop sadar dan menghentikan tindakannya itu.

“…iya sih, itu usaha mereka buat cari uang.. tapi apa mereka nggak tau ya mas, mereka seneng aja ngidupin musik gitu bikin orang kayak aku terganggu banget…mungkin tetangga lain juga ngerasain. Warkop-warkop lain gak gitu-gitu amat juga tetap rame tuh…emang gak pernah dirazia kali ya”, keluh saya sedikit mengomel.

Akhirnya saat itu juga, suami langsung menelepon layanan call center WH (Wilayatul Hisbah) /polisi syariat dan melaporkan ketidaknyamanan yang kami rasakan akibat kebisingan itu. Penjawab telepon berjanji akan segera menindaklanjuti laporan kami. Entah bagaimana riilnya proses tindak lanjut itu, yang jelas alhamdulillah, sejak saat itu hingga sekarang, kebisingan malam dari warkop itu tak lagi terdengar.

Terima kasih WH, terima kasih Pemkot Banda Aceh. Semangat terus tegakkan kebenaran, sekalipun hujatan dan permusuhan dari pencinta kemaksiatan terus datang menghampiri. Semoga Allah selalu melindungi langkah kalian yang bekerja menegakkan yang haq dan membasmi yang batil, aamiin.

Terima kasih juga buat pengelola warkop, semoga dengan tidak lagi menganggu tetangga, rezekinya makin berkah dan melimpah:)

Kahfi dan Maryam

“Dimana dicari pemuda Kahfi, terasing demi kebenaran hakiki…”

Alunan Nasyid dari grup Izis berjudul “Pemuda Kahfi” lembut menemani. Membuat saya teringat lagi dua ‘surat cinta’ yang meninggalkan kesan tersendiri hari ini. Surat cinta yang pertama diawali dengan kisah yang serupa dengan lirik nasyid di atas, Al-Kahfi. Di bagian awal surat ini berkisah tentang pemuda-pemuda beriman yang dijaga Allah dengan ditidurkan selama ratusan tahun di dalam gua. Penjagaan ini dimaksudkan agar pemuda-pemuda itu tidak mengalami dan menyaksikan kezaliman. Subhanallah, seperti apa ya pemuda-pemuda itu? Mungkin ya..mungkin mereka adalah sosok-sosok muda tampan nan soleh yang ‘cool’ dan terjaga pandangan serta sikapnya. Ups, cukup sampai di sini saja imajinasinya.

Surat kedua adalah surat yang berkisah tentang seorang gadis yang sangat taat dan cinta pada Penciptanya. Begitu taatnya ia, kehadiran malaikat Jibril yang menyerupai laki-laki (yang mungkin bisa saja sosoknya tampan rupawan ), tak membuatnya goyah. Ia tetap teguh menjaga kehormatan diri. Ketika diberitahukan bahwa atas perintah Tuhan, ia akan mengandung seorang anak dari roh kudus. Ia sempat dengan tegas mempertanyakan, karena ia merasa dirinya tak pernah berhubungan dengan laki-laki manapun apalagi berzina. Namun setelah malaikat menjelaskan bahwa itu perintah Yang Maha Kuasa, gadis ini berbesar jiwa dan menerima titah Tuhannya itu. Kendati harus terasing dari sanak keluarga, ia ikhlas menjalani apa yang dikehendaki Tuhan, tak terhapus imannya. Keteguhan hatinya dalam menjalankan perintah Tuhan, ketegasannya menjaga kesucian diri, dan kebesaran jiwanya menghadapi perlakuan manusia yang semena-mena. Sungguh jiwa gadis yang luar biasa. Yak! Gadis itu adalah Maryam, ibunda Nabi Isa.
Kekaguman pada pemuda-pemuda gua dan gadis Maryam di 2 surat cinta tersebut, mengingatkan tentang soal pemuda-pemudi. Tentang tahap kehidupan dimana pemuda mencari pemudi, demikian pula sebaliknya. Tentang memilih pasangan, seseorang yang akan menemani sepanjang usia, sampai ke surga (aamiin). Tentang masa-masa seperti kita berada di jalan yang indah namun sesungguhnya licin, remang-remang, dan banyak jebakan di sana-sini. Jika tak berhati-hati dan tak ada cahaya yang menerangi atau penunjuk jalan, kita bisa tergelicir jatuh atau tersesat kesana-kemari. Tentang bagaimana menemukan pemuda yang dituliskan Tuhan menjadi imam, atau gadis yang tersurat sebagai tulang rusuk.

Where-theres-a-Will-theres-a-Way-Easy-Branchespoems.easybranches.com

Setiap orang pasti punya gambaran atau kriteria dari pasangan yang diinginkan. Adalah wajar pula kalau kita menginginkan seseorang yang baik akidahnya dan terjaga akhlaknya, entah itu pria maupun wanita. Memang mungkin terlalu jauh kalau membandingkan dengan kisah dari 2 surat cinta yang menginspirasi itu. Dalih sederhananya, kita ini manusia biasa yang mungkin sudah terbiasa pula melenceng kesana-kemari. Sedangkan pemuda Kahfi dan Maryam adalah orang-orang istimewa yang terpilih. Namun alangkah baiknya seiring berjalannya waktu, kita belajar meluruskan diri untuk selaras dengan apa yang menjadi cita-cita. Mulailah mendekatkan diri pada sesuatu yang disebut ‘kelayakan atau kepantasan” bagi yang kita impikan.

Jika yang diinginkan adalah sosok yang membatasi diri dalam bergaul dengan yang bukan muhrimnya, maka diri kita pun harus mulai melakukan hal serupa. Jika ingin pasangan yang hidupnya dekat dengan Al-Qur’an, maka mulai tingkatkan pula kedekatan kita dengan Al-Qur’an. Jika ingin pasangan yang mau belajar menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya, maka mulai siapkan diri untuk menjadi ayah yang mau belajar dan mengajarkan kebaikan pula. Jika yang dicari adalah tulang rusuk yang total berkarir membangun keluarga, maka siapkan diri menjadi tulang punggung yang total pula menjadi penanggung kebutuhan keluarga.

Intinya adalah dekati derajat kepantasan. Belajar dan nikmati perubahan kearah yang positif, kendati kadang beresiko dibilang aneh, dimusuhi, atau macam-macam. Bahkan mungkin resikonya bisa jadi kehilangan teman atau ehem..gebetan… Tak mengapa, selama perubahan itu kita yakini baik, insya Allah, semua akan baik-baik saja. Kehilangan seperti itu memang tidak gampang awalnya, yang penting tak kehilangan ridho Illahi, insya Allah yang hilang pasti berganti atau mungkin kembali (dengan kondisi yang lebih baik).

Illustration+-+your+way+my+way+street+signswww.thrivelifeservices.com

Tak perlu berputus asa atau takut untuk meningkatkan kualitas diri hanya karena di masa lalu kita belum berpikir sejauh apa yang dipikirkan saat ini. Bukankah kita memang tak bisa merubah masa lalu, tapi kita boleh berikhtiar membentuk masa depan. Tentunya diiringi dengan doa penuh permohonan pada Yang Maha Kuasa.
Pendek kata, sekalipun kita tak sesuci pemuda Kahfi, tak seistimewa Maryam, kita bisa belajar berubah kearah kebaikan selagi nyawa masih dikandung badan. Tulisan ini sama sekali tak bermaksud menggurui, hanyalah seulas niat untuk berefleksi dan berbagi serta mengingatkan diri sendiri. 

 

“Sungguh, kebenaran hakiki hanyalah milik Allah semata”
Garuda 5/16/2014 11:51:24 PM

Adaptasi Inflasi: Menu Hemat dan Sehat ala Anak Kos

Gambar

Tahun 2014 baru saja memasuki hitungan hari, dunia di sekitar saya tiba-tiba berdengung-dengung dengan kenaikan harga ini itu. Tiga hari yang lalu saya berbelanja di kios sayur dekat kos, kebetulan saat itu ada beberapa pelanggan lain (ibu-ibu). Disela-sela memilih sayuran, saya mendengar ibu-ibu saling berkeluh kesah tentang naiknya harga gas, sayuran, dsb. Saya jadi ingat sehari sebelumnya juga pemilik warteg dekat kos mengeluh, “harga-harga makanan naik ya, soalnya harga gas naik, jangan kaget.”

Jadilah semakin terasa betul  bahwa awal tahun seperti momen untuk kembali naiknya harga-harga. Uang kos, harga gas LPG, harga makanan, tarif angkot, sembako, semuanya ikut naik. Semakin sadar ketika beberapa update teman-teman di socmed juga ngomongin hal serupa, terutama yang udah jadi ibu-ibu. Padahal pemasukan belum tentu naik sedrastis itu, kan? (wajar juga ya ibu-ibu jadi bikin ‘kode-kode’ biar si para bapak juga ikutan ngerti…uang belanja).

Yah, sudahlah daripada saya ikut nambahin ramenya keluhan. Mending ngomongin bagaimana cara Baca lebih lanjut

Belajar CEO’s Great Attitude dari Billy Boen YOT

[Sabtu ‎16 November, ‎2013, ‏‎4:58:14 PM]

Sudah sejak beberapa tahun lalu saya mendengar namanya. Berawal dari salah seorang teman kuliah yang gembar-gembor mengikuti programnya, Young on Top campus (YOT) ambassador. Saat itu saya sempat browsing tentang orang ini karena penasaran. Bagaimana tidak, sepertinya teman saya itu benar-benar ngebet ingin daftar program itu.

Demi rasa penasaran itu, selain browsing, saya juga mencari buku karyanya di perpustakaan kampus. Buku warna kuning cerah itu sejenis buku-buku pengembangan diri versi Indonesia. Saat itu saya baca lompat-lompat dan mungkin tidak 100% tuntas (nyesel,sih..). Waktu-waktu berikutnya, kok ini buku awet bener nongkrong di berbagai toko buku nyata dan maya yang biasa saya kunjungi. Nama penulisnya juga semakin membahana kesana kemari. Oke, kita sebut saja namanya salah satu orang muda Indonesia yang sangat menginspirasi ini, Billy Boen.

Dengan semakin berkibarnya nama Mas Billy Baca lebih lanjut

Catatan dari Sang Guru (Besar)

Membaca note ringan namun sarat makna dari seorang Profesor Imam Suprayogo, membuat saya menekuk muka. Malu. Saya memang jatuh hati pada notes beliau yang konsisten muncul setiap hari. Meskipun tak selalu saya baca semua, tapi saya selalu terkagum-kagum dengan konsistensi kemunculan tulisan beliau yang enak dibaca. Khas tulisan seorang guru besar sejati yang mampu menyampaikan sesuatu yang tampak kompleks menjadi sederhana dan mudah dicerna.

Salah satu tulisan Prof. Imam yang akhir-akhir ini membuat saya merasa tulisan itu (seakan) ditujukan pada saya berjudul Baca lebih lanjut

Bicara Pancasila, Reformasi, dan Media Bersama Sang Aktivis-Jurnalis

Pancasila Reformasi dan Media, itulah topik kuliah umum yang dibawakan oleh seorang jurnalis kawakan, Ulin Yusron, dari Aliansi Jurnalis Independen, pada Rabu  5 Juni kemarin. Sebagai refleksi dari kuliah tersebut, tulisan ini Baca lebih lanjut

Enyahkan Serangga dari Kamar

Tengah asik berselancar di netbook sambil mendengarkan musik racikan terbaru band teman sekampus, tiba-tiba ada bunyi asing mengganggu. Seperti suara pesawat. Setelah headset saya buka, suara serangga sejenis lalat besar masuk kamar rupanya. Ah, malesin banget ya ini hewan mini. Berisik dan khawatir disengat.

Gambar

Refleks teringat Baca lebih lanjut

Godaan-Godaan Masa Proposal Es Kripsi

Memasuki dunia skripsi itu bagaikan masa puber, godaannya banyak banget. Godaan ini bisa diartikan secara positif atau negatif tergantung pada intrepreternya. Baca lebih lanjut

Refleksi Pendidikan Karakter bertepatan Maulid Nabi Muhammad

(Tulisan ini merupakan refleksi di hari Maulid Nabi Muhammad SAW, Januari lalu)
Pendidikan Karakter butuh peran teladan (role model). Saya percaya itu. Simple saja, kita ambil contoh karakter jujur. Jika anak atau siswa kita bertanya jujur itu apa, cukupkah kita hanya memberikan definisi bahwa jujur adalah bla bla bla? Baca lebih lanjut